KESAMAAN ANTARA JOHN LENON, KAHLIL GIBRAN DAN JESUS

Lagu John Lenon, anggota The Beatles, yang berjudul Imagine sangat populer dan sering dipakai untuk melatar belakangi acara televisi nasional maupun internasional yang berbau kemanusiaan, misalnya: musibah alam dan pertempuran. Syair lagu itu antara lain mengatakan bahwa: “Seandainya didunia ini tidak ada agama, maka dunia ini akan lebih tenang dan damai, persaudaraan akan lebih mesra, tidak ada kekerasan dan kerusuhan berdalih agama.”

 Kahlil Gibran adalah pujangga Arab/Libanon yang luar biasa, buku2 nya menjadi best seller diseluruh dunia. Tulisan2nya amat menghipnotis, pemilihan kata2nya amat indah, dan maknanya sangat dalam. Tiga buah bukunya yang master piece adalah: Sang Nabi, Sayap2 yang Patah, dan Jiwa Pembrontak. Tentang agama, Kahlil Gibran menandaskan bahwa: “ If we were to do away with the various religions, we would find ourselves united and enjoying one great faith and religion, abounding in brotherhood.” Artinya, apabila kita bisa melepaskan diri dari agama, kita akan bersatu dan menikmati persaudaraan. Banyak penggemar dan pembaca bukunya yang menyetarakan dia dengan seorang nabi.

 Yesus/Isa memang manusia luar biasa (maaf bagi yang Nasrani, kita melihat dari segi kemanusiaannya, bukan ke Ilahiannya), ia tidak mendirikan agama, melainkan mengajarkan religiositas, humanism dan universalism. Salah satu definisi umum tentang religiositas adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan. Yesus menandaskan bahwa surga adalah hak semua orang, beragama atau tidak, asal dalam perjalanan hidupnya melakukan kebaikan/kebajikan (RELIGIUS). Yesus tidak pernah menghakimi keyakinan orang/bangsa lain, misalnya dengan mengatakan/menuduh “kafir”. Bagi beliau, mengkafirkan orang atau golongan lain adalah dosa besar! Dalam berbagai contoh perumpamaan, ia menyingkapkan bahwa justru orang yang dianggap kafir oleh orang Yahudi ternyata malah menjadi penghuni surga, sedangkan yang beragama namun munafik justru menjadi penghuni neraka! Jesus mereformasi penghayatan dan pemahaman agama saat itu, ia melawan Majelis Ulama Yahudi yang gemar mempolitisasi dan menunggangi agama!

Atas dasar uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang adanya KESAMAAN ANTARA JOHN LENON, KAHLIL GIBRAN DAN YESUS. Kesamaan mereka bertiga berkenan dengan agama adalah betapa seringnya agama disalah gunakan oleh para pemuka agama dan para politisi, sehingga mengakibatkan:

-          agama menjadi sangat membatasi ketidak terbatasan Tuhan

-          agama menjadi sangat membatasi manusia, sehingga dunia menjadi terkotak-kotak dan terkoyak-koyak.

-          agama sering dipakai untuk kepentingan politik, ekonomi dan bisnis

-          agama lalu sering menjadi sumber konflik, kerusuhan, bahkan pertempuran antar penganutnya/suku/bangsa.

 Dengan demikian, agama justru dapat membuat kebudayaan suatu bangsa mengalami stagnasi atau bahkan bisa mengalami kemunduran

 Perlu diketahui, manusia modern dinegara maju, terutama para ilmuwannya, telah memahami dan menyadari bahwa:

-          Pertama, agama itu berbasis kitab suci, dan kitab suci mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok, seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka dunia beserta isinya pun tidak akan bisa memuat. Jadi dapat disimpulkan bahwa kitab suci agama itu sangat terbatas sekali.

-          Kedua, Allah itu tak terbatas, dari minus tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir di plus terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya).

-          Ketiga, bahwa Allah itu bukan sesuatu yang statis-beku-kaku dan hanya mengacu pada masa lampau seperti agama, melainkan Ia adalah dinamis dan mengacu ke masa depan.

 

Atas dasar ketiga dalil/hukum penalaran agama diatas, maka pengetahuan dan pelajaran tentang Allah belum selesai dan tidak pernah akan selesai! Inilah ketiga dalil utama dari hukum utama penalaran tentang agama. Atas dasar hukum ini, maka manusia bijak lalu berpedoman bahwa: “bukan agama yang dicari, melainkan kitab sucinya sebagai sumber agama yang dicari, dan bukan kitab suci yang sangat terbatas itu yang dicari melainkan kebenaran atau Tuhan yang tak terbatas itu yang selalu dicari, dan pencarian akan rahasia Tuhan ini tidak akan pernah selesai”.

 Agama tetap diperlukan, namun pengajar/pemuka agama yang baik dan bertanggung jawab harus menandaskan hukum utama penalaran seperti tsb. diatas saat pertama kali mengajarkan agama kepada para muridnya! Pilihan terbaik abad milenial dan kedepan adalah BERKEYAKINAN TANPA BERAGAMA, niscaya dunia aman tentram.

 Penutup

 Kekuatan tulisan2 di kitab suci sungguh luar biasa. Buku suci tsb. dapat berbuah baik atau buruk tergantung kepada pencernanya. Pemuka agama sebagai pembantu pencernaan buku suci haruslah bijak dan cerdas. Bom Bali dan segala kerusuhan/perpecahan atau teror didunia yang berbasis agama kiranya dapat dihentikan melalui pemahaman dan penerimaan hukum utama penalaran tentang agama.

 

Ki Panji Cemerlang, di Pertapaan Pustaka Didital Tanpa Batas

 

Komentar