Kebenaran Itu Paradoks
Realitas ini akan mengejutkan manusia modern, karena kita terbiasa hidup dalam kebenaran tunggal. Hidup dalam paradigma menang-kalah. Yang menang adalah yang lebih banyak, lebih kuat, lebih kaya, lebih pandai berartikulasi. Siapa menang akan benar. Yang kalah itu tidak benar. Hidup ini adu kekuatan, perang. Dan perang membutuhkan
konflik. Dan konflik adalah perbedaan-perbedaan. Di mana tumbuh
perbedaan-perbedaan, maka di situ muncul konflik. Setiap perbedaan mengklaim
dirinya benar. Dan karena setiap kebenaran itu ingin hidup dan berkembang,
sebagai hak asasi, maka yang terjadi adalah perang-kebenaran. Kebenaran yang
lebih kuat akan menggencet dan menyingkirkan kebenaran yang kalah. Itulah cara
berpikir kita sekarang ini.
Pluralitas adalah realitas yang tidak dapat direduksi menjadi kebenaran
tunggal. Sejarah penderitaan manusia adalah sejarah perang kebenaran untuk
menduduki tempatnya yang tunggal di dunia ini. Dan tidak pernah tercapai.
Tampaknya sudah tercapai, tetapi umurnya tidak panjang, karena realitas itu
kebhinnekaan. Namun, manusia tidak pernah belajar dari sejarah dirinya sendiri.
Konflik kebenaran tetap dilanjutkan dengan perang kebenaran. Manusia itu musuh
bagi sesamanya. Dan musuh itu harus dilenyapkan karena merupakan gangguan dan
ancaman bagi dirinya. Manusia ingin hidup dengan kebenarannya sendiri sambil
menafikan kebenaran yang lain. Seandainya ini pun terjadi, maka kebenaran
tunggalnya itu pun lambat laun akan menumbuhkan dirinya dalam kebenaran plural.
Sejarah manusia telah membuktikan hal ini berkali-kali. Mengapa manusia bisa
keras kepala, ndableg, seperti itu? Karena kehendak bebasnya, karena kebebasan
pikirannya. Engkau boleh memenjarakan badannya, menyakiti dan mengancamnya,
tetapi engkau tidak mungkin melenyapkan pikirannya. Kebenaran tunggal itu
melawan kodrat manusia sendiri. Kebenaran tunggal itu antikebebasan, bahkan
untuk dirinya sendiri. Kebenaran tunggal adalah pembekuan pikiran. Mandek.
Tertutup dan sumpek. Manusia-manusia tertutup seperti ini membuat dunia
berhenti kehilangan cakrawala. Manusia bukan manusia lagi, hanyalah kawanan
bebek atau kerbau yang menuruti lecutan si pemilik kebenaran.
Kearifan lokal
Ada cara berpikir lain milik kearifan lokal Indonesia, terutama manusia
Indonesia yang nenek moyangnya hidup dari pertanian. Indonesia adalah ribuan
pulau di khatulistiwa dengan aneka ragam hayati dan geografi. Apa pun yang ada
di dunia ini ada di Indonesia. Hutan, gunung, sungai, rawa-rawa, laut, teluk,
tanah genteng, bantaran, padang sabana, padang pasir, padang tandus, tundra,
salju. Gempa, gunung api, tanah longsor, tsunami, tanah turun-ambles, semua ada
di Indonesia. Manusia Indonesia melihat itu semua tetapi tidak melihat. Namun,
nenek moyang orang Indonesia melihat apa yang dilihatnya, karena mereka hidup
bergantung pada alam ekologinya. Mereka bukan hanya mampu melihat ekologi,
tetapi juga mampu membaca ekologi. Mereka hidup dengan alam, bersama alam, dan
dalam alam. Bahkan menjajarkan dirinya dengan alam. Dan alam itu bukan obyek
mati yang bisa dibikin semena-mena oleh manusia. Alam itu seperti manusia yang
dapat murah hati, penuh kasih sayang, tetapi juga dapat marah, merusak dan
mematikan. Manusia mengenal kasih sayang dan kebencian, begitu pula alam. Kasih
sayang itu menumbuhkan kehidupan, sedangkan kebencian itu merusak kehidupan.
Kasih sayang dan kebencian adalah pola hubungan dua pihak. Cinta itu muncul
antara yang mencinta dan yang dicintai, begitu pula kebencian. Nenek moyang
Indonesia menyadari pluralisme ini, perbedaan-perbedaan ini,
kemungkinan-kemungkinan konflik ini. Manusia Indonesia lebih memihak kepada
kehidupan yang plural ini. Pluralisme adalah realitas, tanpa kebhinnekaan hidup
akan berhenti, mati, pluralisme adalah hidup ini sendiri. Bagaimana Anda dapat
hidup bersebelahan dengan orang yang memusuhi Anda karena kebenaran kita
berbeda? Untuk apa menang kalau yang lain tak ada? Kemenangan selalu
membutuhkan kekalahan. Kehidupan dalam kebenaran tunggal hanya mungkin kalau
yang lain itu kalah dan dimatikan. Kearifan lokal Indonesia menolak menang dan
kalah, karena berpihak pada prinsip kehidupan. Jadi, banci dan tak punya
prinsip? Justru prinsipnya memihak kepada kehidupan yang plural ini. Membunuh
kebenaran yang lain
itu jahat, tidak etis. Lha, bagaimana itu mungkin? Itulah kebenaran
paradoks. Kalau kebenaran saya berseberangan dengan kebenaran Anda, maka
masing-masing dari kita harus memparadokskan diri. Saya mengenal dan memahami
kebenaran Anda, dan Anda juga mengenal dan memahami kebenaran saya. Karena saya
mengenal Anda, maka saya akan melakukan atau tidak melakukan hal-hal yang Anda
sukai atau Anda tidak sukai. Begitu pula Anda. Justru itu dilakukan untuk
mempertahankan prinsip masing-masing. Dalam memahami yang lain, diri
masing-masing tidak berubah. Saya tetap saya, dan Anda tetap Anda. Itulah yang
terjadi dalam kebenaran paradoks. Kondisi paradoksal itulah yang akan
menyelamatkan prinsip kita masing-masing, karena saya tahu apa yang Anda mau
dan Anda tahu apa yang saya mau. Dan karenanya kita dapat bersikap yang dapat
menghindarkan konflik.
Sikap paradoks seperti ini tak akan terjadi kalau kita tidak membuka diri.
Manusia tertutup tak mungkin hidup tanpa konflik, karena manusia ini buta.
Melihat tetapi tidak melihat. Manusia paradoks adalah manusia terbuka tetapi
tetap mempertahankan kebenaran sendiri. Manusia Indonesia lama itu bukan jenis
manusia sintesis, banci, dan mencla-mencle. Kebenaran saya tetap ingin hidup,
dan kebenaran Anda juga tetap ingin hidup. Bagaimana hidup itu sendiri mungkin
kalau saya mematikan Anda atau Anda mematikan saya? Saya tidak rela mati dan
Anda juga tidak rela mati atau dimatikan. Apakah hak hidup ini hanya untuk
kebenaran saya saja? Jadi, nilai kebenaran Indonesia itu paradoks. Tepo sliro
manjing ajur ajer. Subyek menjadikan dirinya obyek. Manusia memasuki pikiran
yang lain. Manusia menjadikan dirinya seperti alam. Saya tahu bagaimana alam
akan memberikan kasih sayangnya kepada saya, dan saya juga tahu bagaimana alam
akan marah dan membinasakan diri saya. Saya tahu bagaimana Anda akan memberikan
kasih sayang Anda kepada saya, dan saya juga tahu bagaimana saya dapat membuat
Anda marah. Inilah kearifan harmoni itu. Harmoni hanya dapat dicapai dengan
mengembangkan sikap paradoksal. Membuka diri untuk yang lain. Harmoni bukan
sintesis peleburan yang melenyapkan kebenaran masing-masing. Artinya rela
melenyapkan kebenaran sendiri dengan membentuk kebenaran baru yang merupakan
sintesis kebenaran baru. Inilah sebabnya banyak tokoh tidak berhasil ketika
berusaha membentuk agama baru dari campur aduk berbagai agama. Harmoni itu
tidak menetap dan konstan. Harmoni dicapai lewat paradoks ketika gejala konflik
memanas. Lalu kembali ke diri masing-masing. Hidup memang berpotensi konflik,
tetapi konflik itu tidak konstan. Tegang terus itu tidak baik.
Sabtu, 26 Agustus 2006
Komentar
Posting Komentar